jump to navigation

Orang Bijak [Tak] Bayar Pajak April 3, 2010

Posted by jemiesimatupang in Ngomongin Politik.
add a comment

Bung,

Sekelompok orang menamakan dirinya gerakan anti bayar pajak muncul di sebuah jejaring sosial. Anggotanya sudah mencapai ribuan. Konon ini merupakan aksi—lebih tepatnya reaksi—dari markus atawa mekelar kasus semisal Gayus [Halomoan Tambunan], orang [per]pajak[an] yang disinyalir merugikan keuangan negara hingga miliaran rupiah.

Sas-sus yang berkembang—karena memang tak pernah melihatnya langsung—di rekening Gayus tercatat wang 25 milirian. Sebuah angka yang mustahil mengingat ia cuma pegawai golongan III A yang bergaji 11,1 per bulan, tambah lagi dia bukanlah pegawai lama [puluhan tahun] di pajak. (lagi…)

Teh Nulis dan Do Imah April 3, 2010

Posted by jemiesimatupang in 100 Orang Terkenal.
add a comment

Teh—bah! microsoft word ini, tiap kali aku nulis teh jadi the—Nulis berumur 60-an tahun. Boleh jadi lebih. Tengok saja wajahnya, lebih banyak kerut, rambutnya juga udah tak imbang lagi hitam sama putihnya: menangan uban. Dan jalannya sudah bungkuk.

“Bayangkan sajalah, aku udah mulai kerja buat menyemat atap sejak jaman Jepang,” kata Teh Nulis [dengan bicara khasnya tentunya, yang nanti akan saya ceritakan] kalau diajak cerita soal umurnya. (lagi…)

“Garuda” di Bola Kaki-ku April 3, 2010

Posted by jemiesimatupang in Asal Tulis, tentang Anak.
2 comments

Aku tak tau, apakah cerita yang Anda baca berikut ini benar atau tidak. Tapi orang-orang-orang dewasa [bahkan tua] di kampungku selalu menceritakannya dari mulut ke mulut, generasi ke genarasi, bagai sebuah cerita nyata: bahwa benar-benar telah terjadi cerita ini. Lepas dari itu—fakta atau fiksi—cerita itu masuk juga di akalku.

Kampung kami itu letaknya di pesisir timur laut sumatera—selat malaka. Penduduknya rata-rata bekerja sebagai nelayan. Mayoritas bersuku melayu: lainnya: jawa, china, dan batak. Tapi tak penting soak pekerjaan dan suku-bersuku mereka itu, yang lebih berkaitan dengan cerita ini adalah: kalau pesawat melintas di atas kampung kami, maka besarnya sudah sebesar kotak korek api Cap Gajah.—itu pun kejadiannya langka sekali, bisa dibilang sebulan sekali. (lagi…)

Do Kontel Tukang Kodak Maret 31, 2010

Posted by jemiesimatupang in Asal Tulis.
add a comment

Siapa yang tak mengenal Do Kontel di kampung itu?—bahkan di kecamatan itu? Pria paruh baya bersepeda onta, memakai topi koboi yang terbuat dari daun pandan, berompi, dan satu lagi—dan sangat-sangat penting—menenteng kodak kemana-mana.

Do Kontel tukang foto keliling, mangkanya menenteng kodak [orang kampung bilang kamera itu kodak, merujuk pada salah satu merek produsen kamera, walaupun merek lain semisal canon tapi orang kampung tetap juga bilang kodak]; memang apa artinya Do Kontel kalau tak membawa kodak? Setelah membaca catatan ini, Anda jangan percaya kalaupun ada yang mengaku-aku sebagai Do Kontel di kampungku, [catat: Denai Kuala (Bakong) Kecamatan Pantai Labu, Deli Serdang] tapi tidak membawa kamera; bahkan kalau ia juga bertopi koboi, berompi, dan mendayung sepeda onta. Pasti dia bukan! (lagi…)

Nasib Sial Pak Gombel Maret 31, 2010

Posted by jemiesimatupang in Asal Tulis, tentang Anak.
add a comment

Nasib sial itu bermula ketika Lae Sederhana menjadi koordinator Pak Gombel di Iskra. Mereka menjadi satu tim program tiga tahunan untuk isu anak jalanan di Madani yang sedang tergopoh-gopoh menjadi megapolitan. Lebih sial lagi: Pak Gombel harus bekerja satu ruangan 4 x 4 dengan Lae Sederhana, beda meja saja. Akh, matilah dia.

“Sebenarnya lebih baik aku masuk jurang saja!” kesal Pak Gombel sepertiga berkelakar ketika dia tahu menjadi anak buah Lae Sederhana. Tapi nasib memang berkata lain, itu sudah ketentuan lembaga—yang karena udah mapan berdiri, menjadi sedikit tak demokratis untuk tidak mengatakan [pimpinannya] dikatator. Daftar sialnya lagi: Pak Gombel masih membutuhkan pekerjaan itu untuk menjamin dapurnya terus berasap, kalau tidak sudah keluar saja dia. Mau tak mau dijalaninya jugalah. (lagi…)

Berjambang Itu Bohong Maret 27, 2010

Posted by jemiesimatupang in Asal Lempar, Asal Tulis.
2 comments

Satu hari, satu sore, berjam-berjam di warung kopi. Tahun 80-an akhir. Wak Ulong, Teh Nulis, dan Do Kontel tau-tau udah duduk mengelilingi meja warung kopi Cek Minah dengan segelas kopi di hadapan masing-masing. Sekali-kali mereka mengunyah goreng pisang sambil menghembuskan asap tembakau rokok daun nipah lintingan sendiri.

Cek Minah melirik sana-melirik sini: menghitung dalam hati, berapa banyak goreng yang sudah dimakan orang-orang itu. (lagi…)

Pak Gombel “Orang LSM” Maret 20, 2010

Posted by jemiesimatupang in Semacam Cerpen.
1 comment so far

Pak Gombel itu kaya pengalaman. Apalagi pengalaman di dunia pengorganisasian [sudah dingatkan yang lain-lain, Pak Gombel bilang: Pengorganiseran]. Dia pernah terlibat pengorganisiran anak-anak kumuh pinggir rel sampai menggagas aksi mogok buruh ribuan massa pada jaman rezim represif.

Ketika mendampingi anak-anak pinggir rel yang bekerja mencari botot atau barang bekas di Medan, Pak Gombel muda tidak hanya berkawan dengan anak-anak itu saja, tapi semua orang-orang yang berhubungan dengan anak-anak di sana. Tak terkecuali. Orang tuanya, tukang parkir, aparat desa, toke botot, ustad, pendeta, sampai preman-preman. (lagi…)

tukang bawang rendah hati Maret 19, 2010

Posted by jemiesimatupang in Asal Lempar, Asal Tulis, Semacam Cerpen.
add a comment

Mau tak mau Pak Gombel juga terimbas [r]evolusi[?] tekhnologi. Walaupun untuk beberapa hal, dengan alasan idealis, ia memilih untuk menggunakan tekhnologi lama ketinggalan jaman: sepeda tua gazelle karatannnya itu misalnya. Padahal tempat kerjanya bisa sediakan kereta [medan: motor], seperti staf-staf yang lain, untuk kendaraannya kemana-mana. Sayangnya, Pak Gombel tolak mentah-mentah.

”Sepeda itu baik untuk bumi,” kilahnya berfilosofis.

Tapi untuk tekhnologi informasi, Pak Gombel bertekuk lutut. Laptop [dan kadang jaringan internet] misalnya, Pak Gombel tak bisa tolak godaan untuk memiliki dan mengaksesnya. Apalagi barang-barang itu memang mendukung kegemaran Pak Gombel dalam dunia tulis-menulis. [bagaimana cara Pak Gombel bisa memiliki laptop dan belajar menggunakannya tentu menarik kalau diceritakan pada bagian tersendiri] (lagi…)

tapa [masih] punya tangan kiri Maret 19, 2010

Posted by jemiesimatupang in Semacam Cerpen.
add a comment

Ketika orang-orang berdemo menuntut dituntaskannya kasus century yang merugikan uang negara, uang rakyat, sampai triliunan rupiah, Tapa hanya duduk di sudut stasiun kereta api Medan. Baginya, sekaleng lem kambing lebih penting artinya dari 6.7 triliun uang yang memang sudah tak jelas keberadaanya itu.

Tapa tak tahu apa yang dituntut orang-orang itu. Apa yang dituntut mahasiswa. Beberapa kali memang dia ikut terlibat dalam aksi-aksi mereka, tapi bukan karena sadar bahwa uang itu juga adalah uang rakyat, uang anak jalanan, uang Tapa juga, lebih kepada nasi bungkus yang biasanya dibagi-bagikan pada jam makan siang waktu aksi berlangsung. Yang lainnya: Ia tak peduli. (lagi…)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.