Anak Jalanan dan Pendidikan Pembebasan Paulo Freire Oktober 21, 2008
Posted by jemiesimatupang in Uncategorized.trackback
(pernah dimuat Harian Analisa, Senin (3/11/2008)
Salut untuk Paulo Freire, tepuk tangan padanya! Ungkapan keluar setelah mencoba berkenalan lebih dekat dengannya. Sebelumnya, penulis hanya mengenal nama yang agak janggal didengar dan disebutkan di kuping dan lidah rumpun melayu itu. Demikian hebatnya tokoh yang berasal dari Brazilia ini dalam dunia pedagogy (pendidikan). Terlebih apabila pendidikan yang ada tak mampu menjalankan fungsinya untuk memerdekakan manusia, maka ruhnya akan bergentayangan,—seperti hantu komunisme di dalam manifesto Marx—semisal di negeri kita tercinta ini.
Seorang yang kritis menyatakan bahwa berbicara pendidikan adalah berbicara tentang Freire atau kritik terhadap Freire, tapi kita tak bisa berbicara tanpanya. Yang lain mengukuhkan kehebatannya dengan analog bertanya di depan khalayak, “Bagaimana kita mengeja nama Freire?”. Orang-orang yang ditanya serempak menjawab: “H-E-B-A-T”
Ya, Ia memang hebat!
Tulisan sederhana ini sejatinya tidak untuk membongkar kehebatan tampak luar dari seorang Freire atau mencoba menggali siapa dia sebenarnya. Melainkan, mengambil sedikit sari model pendidikan Freire sebagaimana hasil pengalaman yang Ia tuliskan dalam “Pedagogy of the Opressed” (Pendidikan Kaum Tertindas). Sari pemikiran itu akan dipraksiskan dalam pendampingan yang dilakukan terhadap anak jalanan.
Marilah melihat, berfikir, dan bertindak!
Kemisikinan, pendidikan, dan anak jalanan
Akar masalah keberadaan anak jalanan adalah kemiskinan. Dalam hal ini pendekatan yang kita gunakan untuk menyatakan kemiskinan itu adalah pendekatan struktural. Dengan demikian problema anak jalanan yang (di)timbul(kan) di kota-kota besar terjadi akibat struktur atau sistem yang dibuat oleh negara. Di mana struktur yang ada tidak dapat menjamin seorang warga negara (miskin) dapat memenuhi hak-haknya sebagai manusia secara layak.
Kita mulai saja hak warga negara atas pendidikan. Seorang yang miskin tidak dapat masuk ke sekolah karena fasilitas pendidikan yang disediakan oleh negara sangat mahal. Tak bisa lain, orang tersebut pun mengabaikan haknya itu, kemudian dia menuntut haknya di bidang ekonomi, yakni untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Terjadi lagi benturan. Ternyata pekerjaan yang layak hanya tersedia bagi mereka yang mempunyai pendidikan yang layak pula. Sedangkan ia membacapun tidak bisa.
Demikianlah, untuk berdagang atau bertani mereka tidak mempunyai modal dan alat produksi. Yang terjadi kemudian mereka menjadi kuli dan buruh kasar dengan upah yang hanya cukup menanggulangi setengah hari kehidupan mereka. Selebihnya mereka harus berpuasa, bukan karena kewajiban agama atau tarekat, tapi karena terpaksa.
Nah, akhirnya mereka berkeluarga juga. Selanjutnya memiliki anak juga. Perjalanan hidup Ini adalah sebuah hukum alam atau apa yang Islam katakan sebagai Sunathullah.
Maka dirawatlah anak itu dalam keadaan yang belum berubah. Miskin. Kemudian,—dengan pemenuhan kebutuhan ala kadarnya—tumbuh berkembang juga anak itu sebisanya, dan sekarang telah dapat berjalan dan berlari di atas kakinya sendiri yang ringkih. Orang tuanya kemudian berniat menyekolahkannya. Ketika didaftarkan ke sekolah, ternyata uang yang ada di tangan tidak mencukupi. Sekolah belum lagi berubah: harganya masih mahal.
Akhirnya, anak itu luntang-lantung tak tau harus bagaimana. Kemudian terpikir atau dipikirkan (oleh orang tua mereka) agar dapat membantu perekonomian keluarga, terlebih anggota keluarga telah bertambah pula. Adik-adik mereka telah dilahirkan dan menuntut pula untuk diumpani makanan dalam sela-sela tangisnya itu.
Kunfayakun, maka jadilah mereka anak jalanan: si Ucok yang menenteng kerupuk jangek dari warung ke warung, si Upik yang menjajakan plastik kresek, si Bonar yang membersihkan angkutan umum, atau Fide, Anto, David yang “menjual” suara dengan gitar kopong butut, dan lain-lain sebagainya. Inilah memang pekerjaan yang instan, mudah didapatkan, walaupun dianggap sebagai bentuk-bentuk pekerjaan terburuk bagi anak sebagaimana diatur dalam aturan hukum. Tapi mana kala negara tidak mampu menjamin kesejahteraan rakyatnya, anak jalanan akan bertambah terus dan menerus.
Lingkaran setan kemiskinan telah memaksa anak-anak untuk turun ke jalanan yang seringkali tak ramah dengan perkembangan fisik dan mental mereka. Kerap mereka menerima ketidakadilan yang menyerupai—apa yang dikatakan Dom Helder—spiral kekerasan. Dan mereka tak bisa lain dari terlilit oleh kerasnya ikatan spiral yang makin lama makin kuat belitannya.
Dalam pandangan Freire, anak jalanan adalah bagian integral dari kaum tertindas yang hak-haknya diabaikan oleh Kaum Penindas (keluarga, masyarakat, negara, media, dll). Kaum penindas melakukan penindasan terhadap anak jalanan karena mereka telah hilang hati nuraninya, mengingkarari rasa kemanusiaannya. Karena sejatinya manusia itu humanis (berprikemanusiaan). Inilah proses dehumanisasi yang terjadi pada diri sang Penindas, secara sadar atau tidak. Negara misalnya akan menjelma menjadi penindas manakala tidak berhasil menjamin, memenuhi, atau melindungi hak-hak anak jalanan yang ada di daerah teritorialnya. Tak terpenuhi hak mereka akan pendidikan, berpendapat, memiliki identitas, dan hak-hak lainnya.
Demikian halnya dengan kaum tertindas, mereka mengalami proses dehumanisasi ketika tidak mampu bergerak tingkat kesadarannya. Mereka mengganggap bahwa keberadaannya di jalanan adalah sesuatu yang telah ditakdirkan oleh sang Pencipta, sehingga hanya bisa diterima dengan sabar dan lapang dada.
Keadaan ini tak bisa dibiarkan. Untuk itu pendidikan pembebasan adalah sebuah keniscayaan. Pendidikan yang melibatkan partisipasi penuh dari mereka, mengidentifikasi masalah-masalahnya, merefleksikannya, untuk kemudian menghancurkan problema-problema itu. Palu godam yang digunakan tentunya daya krtik yang ada dalam diri anak jalanan—yang telah mengalami penyadaran. Ini mustahil dilakukan dengan menegasikan keterlibatan mereka dalam proses pendidikan itu. Karena merekalah yang paling tahu sebenarnya masalah yang mereka hadapi, analog dengan petanilah yang paling tahu kapan mereka harus menanam padi di sawah.
Prasarat Pembebasan
Pendidikan pembebasan menuntut iklim demokrasi pada tingkat yang paling sejati. Di mana orang-orang yang terlibat dalam lingkar pendidikan itu (baik fasilitator maupun anak jalanan sendiri) mempunyai rasa yang sama atas penderitaan yang dialami anak jalanan. Inilah syarat utama agar dialog dapat berjalan dua arah atau banyak arah. Berdialog mengenai permasalahan-permasalahan anak jalanan: kepribadian, keluarga, cita-cita, pekerjaan, tempat tinggal, permainan, kesenangan, hiburan, harapan, dan lain sebagainya.
Untuk menuju kesana maka ada beberapa prasarat yang harus ada pada diri orang-orang yang terlibat dalam pendidikan pembebasan itu. Yakni: cinta kasih, kepercayaan, dan harapan. Freire menyatakan bahwa tanpa hal itu maka tak maksimal pembebasan yang dilakukan. Rendah diri dapat diartikan sebagai menurunkan level kesombongan kita sehingga dapat menerima keadaan anak-anak jalanan dalam kehidupan kita. Dapat menerima kehadiran anak jalanan yang jorok, sembarangan, ingusan, sok sebaya, urakan, dslb-nya (semua kata dalam tanda kutip). Setidaknya stigma begitu datang dari orang-orang yang mengingkari kehadiran mereka di dunia ini.
Tanpa kerendahan hati maka dialog—yang merupakan inti pendidikan pembebasan—tidak akan pernah terjadi sama sekali. Karena dialog menyaratkan bahwa orang-orang yang terlibat di dalamnya berada dalam level yang sama, berbicara dalam frekwensi yang sama tentang sesuatu hal yang dihadapi. Tatkala seseorang merasa lebih pintar dari orang lain—dari anak-anak itu—dan memaksakan pendapatnya maka yang terjadi adalah proses transfer sebagaimana yang kerap terjadi dalam pendidikan formal. Tak terelakkan, dehumanisasi malah terjadi lagi, dan sayangnya berlangsung ketika melakukan pembebasan terhadap manusia. Inilah suatu ironi ketika rendah hati dinafikan.
Cinta kasih dapat digambarkan bahwa orang-orang yang terlibat dalam proses pendidikan pembebasan itu memiliki rasa cinta kasih terhadap kemanusiaan. Berontaknya jiwa ketika melihat ketidakadilan yang terjadi terhadap anak jalanan yang timbul akibat prikemanusiaan yang ada dalam diri seseorang. Sehingga kekuatan cinta ini akan dapat menggerakkan seseorang untuk membebaskan manusia dari lingkar kekerasan yang terjadi.
Freire mengilhami kekuatan cinta ini dari Che Guevera, seorang revolusioner yang namanya dikenal di mana-mana—fotonya kerap dipajang dalam poster dan ilustrasi t-shirt anak muda. Che sebagaimana dikutip Freire menyatakan bahwa, “Izinkah saya menyatakan ini walaupun dengan risiko ditertawakan, seorang revolusioner sejati dituntun oleh perasaan cinta yang kuat, mustahil membayangkan mereka tanpa sifat ini,”
Maka, manakala cinta kasih telah menjelma dalam diri orang-orang yang terlibat dalam pendidikan pembebasan anak jalanan, energinya akan bergerak menurut mekanisme tertentu, tenaganya tak dapat diukur dan dipetakan.
Dialog juga menyaratkan kepercayaan, yakni kepercayaan bahwa manusia dapat merubah nasibnya: merubah tingkat kesadarannya agar mencapai pada tingkatan kritiknya kritik (tingkat kesadaran paling tinggi). Kepercayaan bahwa anak-anak jalanan dapat menciptakan ide-ide agar kehidupan mereka berjalan ke arah yang lebih baik. Kepercayaan itu pun harus timbul sebelum kita mengenal anak jalanan yang ada dalam lingkaran pembebasan itu. Karena tanpa kepercayaan ini maka yang terjadi adalah kebohongan belaka.
Prasarat selanjutnya adalah harapan. Bukan harapan tanpa melakukan apa-apa—seperti mimpi pemain lotre—tetapi harapan yang dapat menggerakkan orang menjalankan serangkaian praksis menuju pembebasan. Tentu saja harapan ini menjadi semangat yang harus tetap dijaga agar tetap lestari dalam diri orang-orang yang melakukan proses pendidikan pembebasan. Kalau kita analogikan dalam persepakbolaan maka harapan adalah melewati pertahanan lawan untuk kemudian dapat menjebol gol kemenangan sebanyak-banyaknya.
Dalam frame ini, maka harapan adalah anak jalanan dapat hidup sebagaimana layaknya manusia. Keberadaaan mereka di jalanan harus diterima, karena bisa saja mereka menganggap bahwa jalanan adalah sebagai pilihan hidup. Harapan terbesarnya adalah kembalinya manusia ke kodrat kemanusiaannya. Karena sebelumnya tergilas karena penindasan yang terjadi, baik pada diri penindas maupun tertindas. Katakanlah ini sebagai rehumanisasi, memanusiakan kembali orang-orang yang mengalami dehumanisasi.
Proses menamai, berfikir, dan melakukan aksi (sebagaimana pendidikan pembebasan Freire) hanya dapat dilakukan manakala prasarat itu telah dilewati.
(Semacam) Maklumat
Pendidikan itu sendiri adalah proses. Tak lain dari Freire sendiri mencetuskan itu. Maka tulisan ini juga adalah proses untuk memaknai kembali ajaran pendidikan pembebasan yang dimulai Freire. Tentu pengalaman dan pengetahuan sangat berpengaruh untuk dapat sampai pada arti pembebasan yang sebenarnya.
Penulis sendiri sangat-sangat sadar akan hal itu. Karya ini juga timbul dari proses melihat, berpikir, dan menuliskan. Melihat sendiri kondisi anak jalanan, berdialog dengan beberapa fasilitator, dan tentu saja membuka lembar demi lembar Freire untuk kemudian dituangkan dalam tulisan sederhana ini. Maka tak dapat dinafikan kalau kesalahan adalah sebuah keniscayaan yang meminta pamakluman.
Inilah gunanya dialog. Dialog terbuka untuk mencari bagaimana sejatinya pendidikan pembebasan untuk kaum jalanan. Mencari, dan terus mencari, karena memang dunia bukanlah barang telah selesai (being). Freire sudah mengingatkan bahwa, “Bukan memamah ide, tapi menemukan, dan terus menciptakan ide.”
Mari berdialektika….
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”
– Pramoedya Ananta Toer (1925-2006)

Komentar»
No comments yet — be the first.