Cerpenis Amatiran Tentang Keluarga dan Orang-Orang kampungnya Oktober 28, 2008
Posted by jemiesimatupang in Semacam Cerpen.trackback
Cerpenis Amatiran Tentang Keluarga dan Orang-Orang kampungnya
Kutulis untuk Bang Martin
Oleh: Jemie Simatupang
PANGGIL aku Jemie saja.
Bukan bermaksud meniru Pramoedya Ananta Toer untuk “Panggil Kartini Saja” yang ditulisnya pada tahun 1965 itu. Aku ini laki-laki. Bukan dari golongan bangsawan dengan embel-embel RM atau Raden Mas, lagipula ini adalah zaman dimana feodalisme sudah mati, sudah menjadi perlambang tinimbang kekuasaan. Aku sendiri adalah seorang Cerpenis yang baru-baru saja mendaulat diri menjadi penulis, merubah arus hidup dari seorang karyawan kantoran hendak bermetamarfosa menjadi sastrawan dadakan. Jangan cari karyaku di deretan buku di toko buku, karena belum pernah aku membuat satu pustakapun. Jangan juga masukkan namaku sebagai kata kunci pada mesin pencari di halaman internet, karena kau tak akan menemukan siapa-siapa. Aku cuma penulis Amatiran. Baru seminggu.
Nama asliku sendiri? Kusebutkanpun tak juga ada gunanya. Orang-orang hanya mengenalku sebagai Jemie Simatupang dari pada HTS, nama yang diberikan oleh orang tuaku ketika masuk SD, tujuh tahun umurku waktu itu. Aku sendiri tak bisa bilang tak setuju sama Bapak, manut saja walaupun beberapa tahun setelah sekolah berjalan aku kurang sreg dengan nama ini. Apalah seorang anak, tak punya hak dia menentukan siapa namanya, tak juga setelah dewasa. Konon pernah kubaca kalau adat begini datang dari eropa sana dimana nama harus diaktekan, harus didaftarkan pada Negara. Dulu, di negeri kita orang-orang biasa berganti nama sebagai Datuk Ibrahim menjadi Tan Malaka.
***
“Jim, mulailah!”
Itu kata-kata nubuwat Bang Martin yang merubah jalan hidupku tadi, dia mengajakku untuk mulai menulis. Dia tak pernah bisa pas memanggilku sebagai “Jemie” selalu saja berubah menjadi “Jimmy”, agaknya lidahnya sudah kebarat-baratan. Bang Martin adalah kawan kerja seniorku, sangat-sangat senior, sehingga beberapa orang memanggilnya sebagai Bapak. Tak lazim panggilan Bapak di kantorku biasanya antara yang junior memangil “Bang” saja kepada yang senior. Sebagaimana aku memanggil Bang Martin, orang batak yang bermarga Siregar itu. Dia sendiri mengaku dirinya sebagai batak hancur untuk membedakannya dengan batak-batak yang lain.
Bang Martin maniak menulis kalau tak mau dibilang keranjingan. Keranjingan? Akh, apa pula artinya, tidakkan itu berasal dari kata anjing? Tidak. Tidak bang, aku tak berani menyebutmu dengan nama binatang itu. Tak rela sampai anak cucu kau digelar begitu. Biar sudah tua, gemuk, dan ubanan begitu kau adalah senior kami, seniorku juga. Senior yang harus dihormati, terlebih soal tulis menulis, angkat topiku padanya.
Apalagi maniak menulisnya tak mau disimpannya sendiri. Semua orang yang dikenalnya mesti juga sekali-kali nanti diajaknya untuk menulis. Untuk mencintai dunia tulis menulis. Bahkan harus profesional, hidup untuk menulis dan menulis untuk hidup. Bukan main.
“Menulislah seperti makan atau malah seperti bernafas,” rayu Bang Martin kepada semua orang.
“Orang tak bisa hidup kalau tak makan atau bernafaskan?” tambahnya meyakinkan.
Jurusnya itu juga yang sedang dimainkan kepadaku. Tak tenang duduknya kalau orang duduk-duduk tak menghasilkan apa-apa. Tak menghasilkan selembar tulisanpun dalam sehari. Seperti berduri saja kursi kerjanya.
“Okelah Bang” kataku.
“Sekarang apa yang harus kutulis?” tanyaku padanya.
Melihat aku menyerah mengembang senyum dipipinya yang sudah nampak peot itu. Dia sendiri memproklamirkannya sebagai Abang Tua Mulai Peot (ATMP) di kata pangantar buku kumpulan cerpen keduanya. Tak bermaksud memperolok-olok dirinya sendiri, cuma mau bilang kepada calon pembaca kalau “Lihatlah aku, sudah tua tetap berkarya!”
“Tulislah cerpen, buatnya gampang, itu urusan kanak-kanak,” tetaknya.
“Cobalah buat cerita yang dekat dengan kehidupanmu,” sarannya lagi.
Kemudian dia bilang kalau pengalaman hidup bersama orang tuaku adalah inspirasi yang tak kering. Orang tuamu yang agamis garis keras, terpelajar, namun jadi nelayan itu coba dimanifestasikan menjadi tokoh dalam cerpenmu. Ceritakan bagaimana dia tak bersembahyang di musholla samping rumahmu karena menurutnya mesjid itu dibangun dengan uang kafir. Sumbangan yang katanya merusak akidah. Ceritakan bagaimana tanah garapannya direbut kawan-kawan sepermainannya dulu untuk kemudian dijual kepada pemilik modal yang lagi membuka tambak dipinggiran pantai timur Sumatera sana .
“Ceritakanlah jim, cobalah tuliskan,” kata bang Martin bersemangat
“Aku yakin akan menjadi cerpen yang menarik,” katanya lagi.
Aku memang sudah cerita banyak pada Bang Martin tentang siapa aku. Tentang siapa keluargaku, siapa bapakku, bagaimana emakku, kakak, adik, dan abang-abangku. Dan juga tentang kehidupan orang-orang di kampungku. Wajar kalau dia tau tiap detil dari perjalanan hidup keluargaku. Dan cerita hidup itulah yang menurutnya menarik untuk diceritakan.
“Tiada cerita yang menarik terkecuali kehidupan itu sendiri,” katanya mengutip Pramoedya yang menjadi idolanya dalam menulis.
Bagiku sendiri menulis tentang keluargaku adalah mengulang kembali hikayat kemiskinan yang menimpa keluargaku. Menimpa juga orang-orang yang ada di kampungku, dari dulu sampai sekarang. Membuka kembali lembar-lembar suram tentang keluarga nelayan miskin dengan lima orang anak. Tentang bapak yang sering berantam dengan mamak karena hari ini pere pajak, tidak mendapatkan hasil tangkapan ikan untuk dijual. Uang sekolah abangku yang duduk di bangku SMA tak terbayarkan, menyinggung juga soal aku menangis minta sepatu karena mulai malu kawan-kawan tidak bersendal jepit lagi ke sekolah. Kepala sekolah yang membuat aturan begitu.
“Anak-anak besok kalau kaki ayam dan pakai sendal jepit tak boleh masuk kelas!” demikian pidatonya sehabis upaca bendera.
Sekelumit pasti aku ceritakan juga tentang desa pesisir dengan pohon kelapa dimana-mana. Penduduknya yang miskin namun sok kaya. Mau tak mau bercerita juga soal kebiasaan mereka yang menghabiskan waktu berlama-lama di kedai kopi Ucu Pe’ah yang ada dekat perbatasan kampung. Membual tentang semua hal yang tak mungkin mereka dapat. Tentang mereka yang hari ini mendapat ikan 1000 kilo, jenis kuring semua, tentang Pak Ulong yang hari ini berhasil membunuh seekor harimau yang akan menerkamnya. Juga tentang Uncu Udin yang menang porkas berjuta-juta sehingga sebulan ini dia tak perlu pergi melaut. Tak perlu bangun pagi-pagi sekali mengkayuh sepeda menuju muara sungai tempat perahu ditambatkan.
Tapi memang apa lagi? Kedunia seperti itulah nelayan-nelayan ini bisa senang sedikit. Mereka tak tau bagaimana harus merubah nasib kecuali lari ke alam khayalan dan bualan yang tak terukur oleh logika. Tidak tau bagaimana melawan dominasi pukat harimau yang mengeruk semua hasil laut, yang menjaring rata ikan besar, kecil, sampai telur-telurnya. Mengapa mereka miskin? Tak pernah dan rasanya tak perlu mereka tanyakan. Mereka mengangap bahwa keadaan itu sudah menjadi takdir yang turun dari langit. Dan mereka sendiri hanyalah pelaksana dari cerita kemiskinan yang sudah disuratkan itu, yang ada di langit sana .
Sebagian yang fanatik agama mencoba mencari jawaban dalam ruangan musholla. Tiap hari dikumandangkan adzan agar mereka datang untuk sembahyang berjama’ah, memanggil mereka dari rumah-rumah mereka yang doyong untuk berangkat kesana. Dipanggil melalui corong mix yang kata bapakku dibeli dari sumbangan kafir yang membuat ia enggan kesana. Bapakku tak pernah lagi kesana sejak debat mulut yang berujung baku hantam dengan penjaga merangkap muadzin disana, dua puluh tahun yang lalu.
“Ayoklah Wak…., “
“Ayoklah Cik…,”
“Ayoklah Nek…, Tok…“
“Ayolah kita sembahyang” demikian kira-kira adzan memanggil.
“Ayolah menuju kemenangan,” panggil muadzin lagi.
“Jangan gusar dengan kehidupan dunia fana ini, nanti disurga kita berjaya,” begitu panggilan itu disimpulkan layaknya simbol AL yang Javes Veva Jaya Mahe (dilaut kita berjaya).
Berduyun-duyun memang masyarakat kampungku datang, tapi pada umumnya mereka sudah tua-tua. Menggigil mereka bersepeda menuju musholla, tak sadar terompa jatuh karena kaki tak lagi bisa merasa. Bertahun-tahun sudah didera rematik. Sebagian lagi bertongkat batang pelepah kelapa, tertatih-tertatih sebelum akhirnya sampai kesana. Bapak yang kini sudah tua tetap menolak melangkah kesana, menurutnya ini soal akidah yang tak bisa ditawar-tawar.
Kalau menurutku sendiri persoalan bapak bukan murni akidah, itu hanya akumulasi dari kegundahannya. Sebagaimana yang disinggung Bang Martin tadi, bapak pernah menggarap tanah di pinggiran pantai timur sumatera. Tanah yang belum lagi bertuan, waktu itu orang kampung menamakan tanah itu tanah tumbuh. Orang-orang kampung sendiri menganggap bapak kurang kerjaan menggarap tanah itu, karena memang tidak bisa menghasilkan rawa berair asin itu. Mau di tanam apa? Sampai akhirnya mereka berduyun-duyun ikut menggarap demi mengetahui empunya modal hendak membuat tambak disana. Mereka akan membeli tinggi harga tanah-tanah itu dari para pemiliknya, dari orang yang menggarap.
Bukan hanya tanah yang tak bertuan dipatok orang-orang kampung itu, tanah bapak yang sudah tumbuh pohon kelapanya pun tak luput dari keserakahan mereka. Latar belakang bapak yang pendatang di kampung ini mungkin jadi keberanian mereka menembus segregasi yang telah dibuat bapak pada tanah-tanahnya. Tak ada peduli sedikitpun orang-orang itu dengan batas-batas yang telah dibuat bapak. Keberanian mereka bertambah setelah berkelompot dengan orang nomor satu di kampung kami, kepala desa. Surat-surat tanah mereka segera keluar dan ditandatangani oleh camat, demi persenan besar kepada Kepala Desa yang menjadi orang kaya baru di desa. Dia orang pertama dan satu-satunya yang punya mobil waktu itu.
Bapak tak terima hal itu, dia mencoba melawan, namun apalah daya ketika militer sudah ada dibelakang semua ini. Meliter di zaman itu, siapa yang bisa melawan? Jangan-jangan sampai dibilang PKI, partai haram yang kadang maknanya sudah pula lain. Orang lebih takut diteriakin PKI daripada maling zaman itu. Bapak tak bisa apa-apa, akhirnya soal mix musholla itupun menjadi persoalan yang besar baginya. Terlebih penjaga musholla itu adalah salah seorang yang telah mengklaim tanah-tanah garapannya.
Orang-orang desaku sempat menjadi kaya waktu itu, setidaknya untuk ukuran kampung kecil yang jauh dari kota itu. Mereka membeli TV, Sepeda Motor, merehap rumah, pesta nikah besar-besaran, dan lain sebagainya. Tapi apalah artinya uang ketika menjadi benda mati, bukan menjadi modal sebagaimana pengusaha tambak pembeli tanah mereka. Akhirnya kena hukum materi juga rusak dimakan waktu, TV mulai bersemut, kabur gambarnya, rumah mulai bocor dan lapuk, dan sepeda motor sudah mogok minta banyak perbaikan. Yang mogok itu juga dituntut untuk dijual, musim tenggara juga yang memaksanya, waktu angin bertiup kencang sehingga susah untuk berlayar mencari ikan dan hasil laut. Balik seperti keadaan semula mereka itu,
m i s k i n . . .
Jauh dari itu semua, mereka tidak tau kalau kemiskinan adalah kondisi sosial yang terencana rapi dari Negara. Tak mengerti mengapa kebanyakan mereka tidak bisa membaca “Ini Budi”, karena tak pernah duduk dibangku sekolah. Tak tau kenapa korengan anak-anak mereka tak sembuh-sembuh, dan terus menurus diurung lalat untuk kemudian bertelur dan beranak pinak disana. Pasrah ketika demam anak-anaknya meninggi setelah diserang nyamuk malaria yang mencari mangsa. Mereka tak tau malaria berpola pelana kuda, tinggi, sembuh, tinggi lagi. Dan sebagian mati meregang nyawa. Dan kematian hanya ditandai dengan tahlilan yang dihadiri oleh sanak dan jiran tetangga tanpa bisa bertanya “MENGAPA?”
Negara adalah biang kerok semuanya.
Ini juga kuketahui ketika aku mulai kuliah dan bekerja di sebuah LSM anak yang ada di kota. Dari diskusi dan berdialektika dengan beberapa keadaan masyarakat aku tahu juga siapa dalang dibalik tragedi ini. Negara telah mensetting suatu pembangunan yang hanya berkonsentrasi pada fisik saja, dengan modal hutang luar negeri yang tak terhitung jumlahnya. Aku yakin kepala desakupun tak tau berapa nolnya.
Orang-orang miskin seperti dikampungku hanya menjadi sepatu roda pembangunan. Dari zaman GBHN sampai… (aku tak lagi apa namanya sekarang), pembangunan memang ditujukan untuk mereka, orang-orang kecil pada umumnya. Tapi lihatlah apa yang terjadi. Yang kaya juga yang dapat. Pengusaha yang meraup untung melebarkan sayap. Tekhnokrat juga yang berduit. Politikuslah yang bisa menyelamatkan keluarganya menjadi PNS, untuk kemudian memupuk harta.
Pernah sekali aku coba buat diskusi dengan orang kampungku. Setidaknya ini adalah pengabdianku sebagai wujud keprihatinan terhadap keadaan yang tak pernah berubah sepanjang waktu. Di Balai Desa kubuat waktu itu bersama kawan-kawan dari LSM tempatku bekerja. Mencoba berdialektika membangun kesadaran tentang kondisi-kondisi mereka alami selama ini. Tapi apa yang mereka katakan membuatku urung niat untuk melanjutkannya. Mereka bilang kalau aku adalah anak ingusan kemarin sore, jadi jangan ajarin kami bagaimana makan garam.
“Jangan mentang-mentang sarjana kau,” kata Den Gondang menohokku
Aku diam aja. Kalaupun kujawab tak akan selesai urusannya. Sejak itu aku tak pernah datang lagi ke kampungku, walaupun aku yakin sebagaimana Freire bahwa penyadaran mememerlukan proses panjang. Tidak bisa dengan satu dua pertemuan. Tapi sakit juga hatiku dibilang begitu. Kututup dulu buku “Pedagogy kaum tertindas” untuk orang-orang kampungku.
“Jim tulislah,” bang Martin menyadarkan lamunanku
“Ha? Tulis apa Bang?” tanyaku tersentak
“Tentang keluragamu, bangsat!” katanya marah tak diperhatikan.
“Aku capek dengan kemiskinan Bang!” jawabku kemudian bangkit, keluar dari ruang kerjanya.
Hilang sudah niatku jadi penulis.
Menjelang Magrib di Ruang Bang Martin
Medan, 17 Juli 2008
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”
– Pramoedya Ananta Toer (1925-2006)

bang martin pun selalu bilang sama ku bang…
‘mau kutempeleng??’
kalo ku bilang ku nggak bisa nulis
hihih
tenkyu uda mampir lagi ka
hahaha … (bilanglah: mak ayah aja tak pernah nempelengku)
lumayan seru
thx udah membaca,
salaman,