jump to navigation

Sepeda Tua Pak Gombel Maret 19, 2010

Posted by jemiesimatupang in Asal Lempar, Asal Tulis, Semacam Cerpen.
trackback

Pak Gombel belakangan gembira bukan kepalang. Senyumnya—saking royalnya—disebar kemana-mana; bagai tukang kasi selebaran kredit motor yang sering nongkrong di persimpangan. Jumpa Nixon [masudku aku] tersenyum. Jumpa Fatimah juga tersenyum. Jumpa orang-orang, baik yang dikenal ataupun tidak juga tersenyum. Seyum pokoknya. Habis itu siul tak berhenti keluar dari mulutnya: lagu gembira semua.

Selidik punya selidik rupanya sepeda tua itu yang bikin dia bahagia bukan main. Sepeda tua buatan Belanda keluaran tahun 1945[?]. Merek Gazelle.

“Sepeda jenis ini dulu cuma orang-orang hebat yang bisa pakai!” terang Pak Gombel bangga.

“Iya Bang. Sama mandor kebun!” kataku mengejek.

“Kutempeleng kau nanti!” gertak Pak Gombel bercanda.

Benar-benar tua sepeda itu. Lebih tua dari Pak Gombel sekalipun. Besi-besinya lebih karat daripada cat: coklat basah semua, bercampur antara karat dan minyak mesin merek singer yang selalu disemprotkan Pak Gombel. Lingkar, jari-jari, pedal, tempat duduk, stang, semuanya juga sama. Mereknya juga masih ada di bagian depan, tapi tak selamat juga dimakan karat. Samar-samar terbaca: Gazelle dengan lambang rusa yang sedang melompat.

Satu-satunya yang masih berkilat ada di bagian stang, sebuah terompet yang biasa digunakan tukang roti yang biasanya lewat depan rumah dipagi hari—ketika perut memang minta diisi: “tet…tet…tet…!!!”

“Dimana abang dapat sepeda ini?” tanyaku menyelidik.

“Kubelilah. Kau pikir aku curi?” jawab Pak Gombel.

“Iya, dimana abang beli?”

“Ssttt… jangan kau bilang siapa-siapa ya. Murah kubeli ini. Tadi waktu lewat pangkalan botot, aku permisi cari besi sepeda. Kukumpulkanlah batang, lingkar, tempat duduk, pedal,” kata Pak Gombel seperti berbisik, dan duduknya semakin didekatkan kepadaku. Ntah malu—aku rasa tidak—ntah apa, dia agak merahasiakan darimana sepedanya itu berasal. Kurasa lebih kepada: takut dia jatuh marwah sepeda tuanya itu, yang uda dipuja-pujinya selangit kepada banyak orang.

Lalu kata Pak Gombel, ketika ditimbang besi-besi itu beratnya 10 KG, harganya perkilonya tiga ribu rupiah, jadi kenak tiga puluh ribu rupiah. Tapi Pak Gombel berhasil lobby toke botot biar harganya jadi lebih murah. Pak Gombel tak langsung cerita soal berapa harga sepeda itu. Dia tanya toke itu tinggal dimana, berapa anaknya, sekolahnya apa. Dipuji-pujinya toke itu: rajin, ulet, suami yang setia. Dipujinya juga kalau usaha toke ini ikut menjaga kelestarian lingkungan: salah satu rantai daur ulang barang-barang yang [kalau tak didaur ulang] merusak bumi. Macam pahlawanlah dibuatnya toke itu. Dst…dst… tukang botot itu pun mengocehlah, lebih dari sekedar obrolan pembeli-penjual, tak sadar sudah masuk pada ‘”jebakan” Pak Gombel: “Mati kau!”

“Jadi berapa harganya?” tanya Pak Gombel.

“Mau Bapak pakai sendiri kan?”

“Mau kupakai sendirilah. Yang kau pikir aku ini agen? Kau sering nampak aku lewat sini jalan kaki, kan?” jawab Pak Gombel.

“Ya..ya.. bawa ajalah!” jawab toke Botot itu.

“Inilah, aku kasi uang rokok saja!” kata Pak Gombel menyelipkan tujuh lembar ribuan ke kantong si Toke.

Tekhnik yang hampir sama juga dipakai Pak Gombel ketika di tukang bengkel sepeda, biar dapat harga murah menyatukan “bangkai” sepeda itu. Dengan modal cakap [Pak Gombel bilang: pendekatan interpersonal] dan uang Rp.10.000,- saja sepeda itu sudah jadi layaknya sepeda–tepatnya sepeda tua sisa tsunami–: boleh dinaiki anak manusia, bahkan yang seberat Pak Gombel [saya sudah bilangkan, kalau Pak Gombel itu gendut] sekalipun. Dengan uang segitu malah orang bengkel kasi bonus: sebuah terompet tukang roti yang kilat cemerlang.

Bukan main. Pak Gombel sekarang keliling nanggroe pakai sepeda diantara lajunya kereta dan mobil yang mulai memenuhi meulaboh pasca tsunami. Kemana-mana naik sepeda: ke lapangan, ke pantai, ke warnung internet, ke sungai, ke kenduri kampung, dll, sampai rapat koordinasi program di kantor camat hingga bupati pun bersepeda tua.

Semua orang jadi kenal dengannya, lah bagaimana tidak? Satu-satunya yang “terseok-seok” pakai sepeda: tua pula, berkarat pula, berdenyit pula, ada goni—yang tak jelas digunakan untuk apa—pula, dan pakai klakson tukang roti pula. Terus orangnya: pakai kaca mata yang selalu menggantung di dada pula, bercelana pendek pula, berkaos warna tak jelas pula. Tak berat menandainya, bahkan dari jarak 100 meter sekalipun.

“Tet…tet…tet…!!” Kasi jalan. Pak Gombel mau jualan, eh jalan-jalan.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.