jump to navigation

tapa [masih] punya tangan kiri Maret 19, 2010

Posted by jemiesimatupang in Semacam Cerpen.
trackback

Ketika orang-orang berdemo menuntut dituntaskannya kasus century yang merugikan uang negara, uang rakyat, sampai triliunan rupiah, Tapa hanya duduk di sudut stasiun kereta api Medan. Baginya, sekaleng lem kambing lebih penting artinya dari 6.7 triliun uang yang memang sudah tak jelas keberadaanya itu.

Tapa tak tahu apa yang dituntut orang-orang itu. Apa yang dituntut mahasiswa. Beberapa kali memang dia ikut terlibat dalam aksi-aksi mereka, tapi bukan karena sadar bahwa uang itu juga adalah uang rakyat, uang anak jalanan, uang Tapa juga, lebih kepada nasi bungkus yang biasanya dibagi-bagikan pada jam makan siang waktu aksi berlangsung. Yang lainnya: Ia tak peduli.

Begitu juga siang itu. Sekaleng lem [cap] kambing ada di kantong celananya–yang lebih kain lap daripada pakaian. Sebagian sudah dituang ke plastik gula pasir transparan. Dihirupnya bau yang dikeluarkan lem yang biasanya digunakan tukang sepatu untuk menempel sol ini. Nikmat sekali. Matanya terpejam. Kembang-kempis plastik. Kembang-kempis hidung tapa. Kembang-kempis paru-paru tapa.

Tapa terbang ke awan. Gumpal-gumpal awan putih-putih. Ia dekati, lalu duduk di salah satu awan. Tiba-tiba awan berubah jadi warna-warni: merah, kuning, hijau, … Tapa ternsenyum. Nyengir. Betapa indahnya negeri ini pikir Tapa, untuk apa demo-demo lagi?

Sejarak 20 meter dia melihat dua orang sedang tersenyum. Laki dan perempuan. Diperhatikannya kedua orang itu, sepertinya ia mengenalnya. Cemana tidak, rupanya mereka ayah-ibu Tapa. Wah, tapi tak seperti biasanya. Pakaian mereka bagus-bagus. Tumben, pikir Tapa. Biasanya ayah paling hanya kenakan kaos oblong partai, kalau tidak Partai Ayam ya Partai Padi, atau Partai Kelapa. Ayahnya punya 20 koleksi kaos partai yang di dapat dari pemilu yang lalu. Kaos oblong itulah yang dipakai ayahnya kemana-mana; mencari botot, ke warung kopi, tidur, ke rumah keluarga, juga pergi kenduri kalau sekali-kali di undang kenalan atau sanak-saudara.

Kali ini beda. Ayah Tapa malah memakai jas lengkap dengan dasi. “Ayahku sudah jadi presiden pula rupanya!” gumam Tapa—sama seperti gambar yang ada pada kaos oblong yang sering digunakan ayah. “Aku anak presiden. Tak mungkin terancam kelaparan lagi. Bukan gembel lagi. Akan kubeli pabrik lem kambing!” pikir Tapa.

Tapa berlari menyongsong ayah-ibunya. Ayahnya juga berlarii, sebagai film-film yang sering ditonton Tapa dari TV warung nasi tempat Tapa meminta sisa makanan, ketika seorang anak terpisah lama dengan orang tuanya. Ada gerak lambat, sebelum kedua orang itu berpelukan.

Tiba-tiba Tapa ambruk. Ayahnya terus berlari seolah tak peduli. Tapa tak ingat apa-apa lagi. Di koran tercetak berita: “Seorang Anak Jalanan Ditabrak KA Gara-gara Ngelem”.

***

Bangun-bangun Tapa ada di rumah sakit. Ia ditemani Nixon, orang rumah singgah tempat kadang Tapa menginap–ia tak betah di rumah singgah, karena aturan utamanya, yang celakanya dibuat berdasarkan kesepakatan mereka sendiri, tak boleh ngelem. Tapa meringis. Ia haus. Dilihatnya ada sebotol aqua di meja, hendaknya di raihnya, tapi tak bisa. Tangannya tak bisa digerakkan, ketika dilihatnya, bahkan tangan itu sudah tidak ada lagi.

“Tapa, kau ditabrak kereta api, kau ngelem semalam itu kan? Kau uda pingsan 3 hari. Tangan kananmu putus, kaki kirimu patah. Sekarang orang abang sedang usahakan dapatkan jasa raharja, uang ganti-rugi atas kejadian ini. Sabarlah kau!” terang Nixon.

“Tak apa-apalah Bang?”

“Kok tak apa-apa?”

“Aku masih punya ini. Aku masih bisa ngelem pakai tangan ini!” jawab Tapa penuh semangat seraya mengacung-acungkan tangan kirinya, persis mahasiswa kalau sedang aksi. [*]

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.