jump to navigation

tukang bawang rendah hati Maret 19, 2010

Posted by jemiesimatupang in Asal Lempar, Asal Tulis, Semacam Cerpen.
trackback

Mau tak mau Pak Gombel juga terimbas [r]evolusi[?] tekhnologi. Walaupun untuk beberapa hal, dengan alasan idealis, ia memilih untuk menggunakan tekhnologi lama ketinggalan jaman: sepeda tua gazelle karatannnya itu misalnya. Padahal tempat kerjanya bisa sediakan kereta [medan: motor], seperti staf-staf yang lain, untuk kendaraannya kemana-mana. Sayangnya, Pak Gombel tolak mentah-mentah.

”Sepeda itu baik untuk bumi,” kilahnya berfilosofis.

Tapi untuk tekhnologi informasi, Pak Gombel bertekuk lutut. Laptop [dan kadang jaringan internet] misalnya, Pak Gombel tak bisa tolak godaan untuk memiliki dan mengaksesnya. Apalagi barang-barang itu memang mendukung kegemaran Pak Gombel dalam dunia tulis-menulis. [bagaimana cara Pak Gombel bisa memiliki laptop dan belajar menggunakannya tentu menarik kalau diceritakan pada bagian tersendiri]

”Kalau macam petani, inilah cangkolku, ini alat produksiku,” kata Pak Gombel membanggakan laptopnya, yang kalau tidak digunakan selalu disimpan rapi dalam tas yang super[-super] aman. Bahkan semut sekalipun tak bisa bebas menyelinap ke dalamnya.

Bersepeda tua kernyat-kernyit sambil menyandang tas laptop kemana-mana, tentu menjadi perhatian yang lain lagi bagi banyak orang. Baik yang uda sekedar kenal, maupun yang hanya melihatnya melintas saja: ”Apa sebenarnya pekerjaan orang ini?”

Tiap kali berkenalan dengan orang, setelah menanyakan nama dan asal—yang Pak Gombel tahu hanyalah basa-basi—si kenalan baru pasti bersemengat menanyakan: ”Bapak kerja apa? Dimana? Oh gitu, terus uangnya dari mana?”

Pak Gombel selalu bilang kalau dia kerja di LSM atau NGO atau Ornop atau organisasi masyarakat sipil, diterangkannya panjang lebar apa itu semua, cemana kerjanya, mengapa harus ada lembaga-lembaga itu, jaringannya dimana saja, dlsb, dlsb …

Tapi si kenalan baru biasanya cuma melongo, dan berkesimpulan yang tidak-tidak, dan kadang malah buat jengkel hati Pak Gombel.

”Jadi kerjanya rapat-rapat saja ya!”

Kalau tidak

”Kok bapak cuma naik sepeda? Katanya kawan-kawannya ramai di luar negeri”

Atau

”Dapat proyek apa dari pemerintah tahun ini?”

Kadang

”Bisa jadi calon bupati lah ya”

Atau yang paling menjengkelkan

”Oh, jadi Bapak dapat uang dari Amerikalah ya? Bagi-bagilah!”

Tentu sebenarnya tak salah anggapan orang-orang itu. Apalagi citra dunia yang digeluti Pak Gombel belakangan memang sedang turun pamor. Banyak orang-orang yang mengaku bekerja seperti Pak Gombel, tapi sebenarnya cuma kumpulan preman, atau pendukung kebijakan pemerintah yang meninabobokan rakyat, atau lain-lain yang tidak mempunyai idealisme sebagai layaknya Pak Gombel. Atau ada juga yang dulunya punya idealisme, tapi sekarang malah menjadi corong pemerintah, dulu membela rakyat sekarang malah menjadi bupati yang menindas rakyat.

Pengalaman-pengalaman seperti ini, akhirnya mengajarkan Pak Gombel untuk sedikit berbohong [Tuhan ampuni dia] tentang prihal pekerjaannya. Kadang dia ngaku jadi petani, tentu petani menanam padi, sayur, dll. Gampang. Kadang jadi pedagang: jualan pakaian, kaki lima, makanan. Tak repot menjelaskannya.

Tapi komentar orang kadang tak juga normal-normal saja. Misalnya satu kali di warung kopi, seorang kenalan langsung mengajaknya berbisnis penananaman sawit.

”Bapak sediakan saja modalnya, saya punya tanah, hasilnya kita bagi dua,” tawar orang itu.

Terpaksa Pak Gombel pakai jurus silat lidah tingkat tinggi untuk menolak tawaran itu. Kalau turutinya, matilah dia. Pak Gombel itu tak paham seluk-beluk bisnis sawit, yang dia tau menulis, mengorganisir [Pak Gombel bilang mengorganiser], menulis mengorganiser….

Lain kali orang berkomentar–yang Pak Gombel yakin orang itu bukan mengejek: ”berarti banyak juga keuntungan bapak jualan bawang tiap hari. Kulihat bapak kemana-mana bawa laptop, pasti kalkulator tak sanggup lagi menghitungnya”

”Matilah kita!” [*]

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.