Pak Gombel “Orang LSM” Maret 20, 2010
Posted by jemiesimatupang in Semacam Cerpen.trackback
Pak Gombel itu kaya pengalaman. Apalagi pengalaman di dunia pengorganisasian [sudah dingatkan yang lain-lain, Pak Gombel bilang: Pengorganiseran]. Dia pernah terlibat pengorganisiran anak-anak kumuh pinggir rel sampai menggagas aksi mogok buruh ribuan massa pada jaman rezim represif.
Ketika mendampingi anak-anak pinggir rel yang bekerja mencari botot atau barang bekas di Medan, Pak Gombel muda tidak hanya berkawan dengan anak-anak itu saja, tapi semua orang-orang yang berhubungan dengan anak-anak di sana. Tak terkecuali. Orang tuanya, tukang parkir, aparat desa, toke botot, ustad, pendeta, sampai preman-preman.
”Itu penting untuk memetakan situasi: mana yang bisa kita hasut untuk kerjasama!” kata Pak Gombel
Tapi perkawanannya dengan tokoh-tokoh masyarakat [apalagi tokoh agama] kadang membawa cerita lain. Mereka ini tak mengerti dengan apa sebenarnya Pak Gombel ini. Okelah tentang pekerjaannya, dia itu orang yang kurang kerjaan yang suka main sepanjang hari dengan anak-anak, tapi tentang agamanya itu. Tiap kali diajak ke mesjid untuk sholat jumat, Gombel muda selalu menolak dengan beberapa dalih. Lain kali ketika pas hari minggu orang-orang gereja mengajaknya untuk beribadah bersama, Gombel juga bertingkah: ”Kami sedang ada kegiatan dengan anak-anak!”
Tapi dengan orang-orang pinggir rel dewasa yang sudah akrab dan berdiskusi, Gombel selalu membuka wacana kritis tentang apa agama itu. Pak Gombel bilang agama cumalah alat yang dibuat oleh penguasa biar bisa menindas rakyat: seperti yang sedang mereka alami saat sekarang ini. Lihatlah! Ada penguasa hidup berfoya-foya, pesta-pesta, makan duit rakyat, sementara jutaan rakyat hidup menderita, sementara lagi ustad dan pendeta cuma bilang: ”Sabar. Orang sabar disayang Tuhan!”
“Itulah agama. Dia itu macam candu. Makin lama kita hisap, makin lama kita jalani, makin ketagihanlah kita. Ini yang harus kita lawan!” tetak Gombel. Orang-orang yang diceramahi ya manggut-manggut saja. Diam saja. Lagipula tak peduli kali mereka dengan ceramah Pak Gombel, apalagi mereka ini sama dengan Pak Gombel: ke gereja tidak ke mesjid ogah. Jadi tak ada yang salah.
Tentang agama barunya itu, entah darimana Pak Gombel pelajari. Bisa jadi memang dari sebuah buku tebal yang kerap dibawanya kemana-mana, yang anehnya dibacanya sembunyi-sembunyi—biasanya kalau sendiri di kios pinggir rel yang merupakan sumbangan orang tua anak-anak. Tebalnya hampir menyerupai alkitab atau Qur’an. Pernah aku—salah seorang anak dampingan Pak Gombel—mau meminjam buku itu, Gombel bilang: “Nanti kalau kau udah besar, abang pinjamkan!”
Satu kali dalam pertemuan dengan orang tua, tokoh agama, dan anak-anak, prihal: sebaiknya hasil botol langsung kita jual saja ke pabrik, karena toke terlalu mengambil untung banyak dari keringat yang dihasilkan anak-anak,–adzan ashar berkumandang. Sesuai permintaan seorang anggota rapat yang juga seorang uztad di sana, rapat diskor, dan bagi yang mau sholat dipersilahkan. Gombel setuju, walaupun sebenarnya dalam hatinya menolak.
Aku dan beberapa orang tua lain pergi ke mesjid yang memang tak jauh letaknya dari kios tempat kami berdiskusi. Di tengah jalan, kudengar seseorang berbicara dengan ustad.
“Pak Ustad, saya uda tahu apa agama Gombel itu. Dia bukan kristen karena tak pernah ke gereja, juga bukan Islam karena tak pernah ke mesjid sama dengan kita, yang lain-lain kurasa bukan. Setelah kuselidiki dia Orang LSM rupanya,” kata orang itu setengah berbisik.
“Sak hatiku pun!” kata ustad itu.
Dari situ aku simpulkan saja, pastilah buku yang dibaca Pak Gombel kalau sunyi-senyap itu kitab suci agama Orang LSM. Aku sempat lihat sampulnya, ada gambar orang tua bersula lebar dengan rambut gondrong awut-awutan, brewokan pula. Pastilah itu Nabinya.
***
Lama aku tak berjumpa dengannya. Tak ada kabar berita. Tapi, tiba-tiba saja minggu lalu aku lihat dia mendayung sepeda di jembatan besi meureubo,–ketika aku kontrol usaha botot di Meulaboh– aku sekarang toke botot yang membuka cabang di kota ini. Dia masih ingat padaku. Atas hasutanya jugalah tulisan singkat ini kubuat, dia bilang beberapa orang sudah memulai. Kutagih untuk pinjaman buku itu, dia bilang buku itu sudah dibuangnya, pas waktu ada sweeping besar-besaran tahun 1997. Lagi pula katanya, tak ada perlunya untukku
”Kau ini orang baik budi,” katanya.
Dari cerita-cerita nostalgia sambil menikmati es tebu di pinggir sungai, katanya dia sudah dekat dengan Sang Khalik, walaupun dengan caranya sendiri. Entah agama apa pula ini lagi.[*]
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”
– Pramoedya Ananta Toer (1925-2006)

http://zaldyogawa.wordpress.com/2010/03/29/maafkan-aku-bidadari/