jump to navigation

Do Kontel Tukang Kodak Maret 31, 2010

Posted by jemiesimatupang in Asal Tulis.
trackback

Siapa yang tak mengenal Do Kontel di kampung itu?—bahkan di kecamatan itu? Pria paruh baya bersepeda onta, memakai topi koboi yang terbuat dari daun pandan, berompi, dan satu lagi—dan sangat-sangat penting—menenteng kodak kemana-mana.

Do Kontel tukang foto keliling, mangkanya menenteng kodak [orang kampung bilang kamera itu kodak, merujuk pada salah satu merek produsen kamera, walaupun merek lain semisal canon tapi orang kampung tetap juga bilang kodak]; memang apa artinya Do Kontel kalau tak membawa kodak? Setelah membaca catatan ini, Anda jangan percaya kalaupun ada yang mengaku-aku sebagai Do Kontel di kampungku, [catat: Denai Kuala (Bakong) Kecamatan Pantai Labu, Deli Serdang] tapi tidak membawa kamera; bahkan kalau ia juga bertopi koboi, berompi, dan mendayung sepeda onta. Pasti dia bukan!

Dalam bahasa kampung [serdang] Do [atau Udo] menunjukkan pada urutan kelahiran anak ke-empat [setelah Ayung, Angah, dan Alang]. Kontel sendiri adalah nama, tapi aku tak seberapa yakin apakah ini nama aslinya, biasanya memang orang melayu selalu memberi gelar [cakap kampungnya: gola(r)—ada huruf ”r” tak jelas setelah huruf ”a”]. Kalau nama kita Ahmad bisa jadi gola(r)nya: Mat Pungguk, Mat Hitam, Mat Putih, Mat Singgah; entah merujuk pada satu ciri khusus pada fisik ataupun kejadian tertentu. Gelar itu dibuat untuk membedakan ahmad yang satu dengan ahmad yang lain, banyak orang yang namanya sama di kampung. Tapi Kontel sendiri, aku tak tahu darimanakah gola itu dibuat.

Do Kontel itu selalu dicari-cari dan ditunggu-tunggu orang. Terlebih kalau sedang ada hajatan. Tak sah rasanya kalau mengendurikan perkawinan anak kalau tak dikodak dulu sama Do Kontel, secemana tak lengkap rasanya kalau menyunatkan anak sebelum dijepret dulu sama Do Kontel. Dari acara yang besar sampai yang kadang kecil-kecilan pun Do Kontel ini dirasakan perlu datangnya. Begitu juga untuk acara kemasyarakatan: 17-an, maulid, isra mikraj, pemilihan kades, dst…dst… Do Kontel perlu mengabadikan beberapa momen: Klik! Klik! Klik!

Tukang foto ini juga ditunggu anak-anak yang ingin masuk atau melanjutkan sekolah. Apa pasal? Apalagi kalau bukan minta bikinkan pas foto ukuran 3 x 4 atau 2 x 3 yang jadi syarat biar bisa diterima di sekolah. Momen ini biasanya paling kami—paling tidak aku sendiri—tunggu. Biasanya sesudah mandi, berpakaian rapi, sisir sebak samping mengkilap [biar tambah licin tambah minyak kemiri—kalau tak ada bolehlah minyak goreng] dan siap-siap di foto, berdiri tegak di belakang dinding yang sudah dikasi kain biru sama Do Kontel. Satu…dua…tiga… Klik! Wah, senangnya, padahal cuma pas foto. Habis itu tinggal nunggu 1 minggu sampai foto itu jadi. [Do Kontel perlu ke kota kabupaten untuk mencetak film-film itu].

Saking populernya Do Kontel ini, kadang istilah kodak untuk kamera itu bisa berganti menjadi kontel. Jangan heran kalau orang kampung kami bilang: ”Uda dikontel tadi kan?” untuk menyatakan satu momen sudah di ambil gambarnya.

Do Kontel itu tinggal di kampung sebelah. Biasanya dia melintas dan singgah di kampung kami seminggu sekali. Di warung Cek Minah itu tentunya dia duduk sambil berkombur dengan orang-orang kampung. Disanalah dia menunggu-dan orang mencarinya. Sudah macam kesepakatan tidak tertulis saja, kalau ingin jumpa Do Kontel, carilah di warung Cik Minah.

Aku kecil kadang suka mendengar-dengar pembicaraan orang-orang di warung ini, mereka bilang berkombur, tapi aku bilang cerita berharga. Orang-orang tua bilang ini pantang, tak jarang juga kami diusir: ”Oi budak kecil sana, pantang dengarkan cakap orang tua!”—tapi apa pula peduli kami? Dari mulut Do Kontel misalnya aku bisa tahu kalau di kota kecamatan ada orang mati bunuh diri, atau kala lain ada orang kemalingan rumahnya, atau berantam dan seorang mati disundak pari pas ada acara hiburan rakyat. Semua informasi itu kulahap saja dan menjadi modal bagiku untuk bercerita sama kawan-kawan yang lain.

Wajar saja kalau Do Kontel punya banyak informasi, karena dengar-dengar desas-desus yang berkembang dia itu pemberi informasi. Informan. Kalau tak salah orang yang memberi informasi kepada polisi tentang kejadian-kejadian [khususnya tindak pidana] di kampung-kampung yang ada di kecamatan kami. Tentu itu tak jadi masalah bagi Do Kontel karena dia memang selalu bergerak kesana-kemari [kok orang sekarang bilang: mobail]. Dia juga konon informan sebuah surat kabar—yang aku tak tahu entah koran mana, apalagi memang tak ada koran yang masuk kampung kami. Dengan pekerjaan rangkap begini tentu saja bandit-bandit benci sama Do Kontel, tapi seingatku belum pernah dia diganggu. Mungkin bandit-bandit itu juga takut pada Do Kontel, kan dia dekat dengan orang polisi.

Aku sudah jarang ke kampung—semenjak melanjutkan sekolah dan kemudian menetap dan berumah tangga di Medan[?]. Sudah lama tak berjumpa dengan Do Kontel. Aku tak tahu apakah Do Kontel masih tukang foto keliling—mengingat sekarang orang dengan begitu mudahnya bisa bikin foto sendiri, bahkan dari handphone sekalipun. Dan banyak juga yang sudah punya kamera sendiri. Semuanya sudah digital, beda dengan kamera Do Kontel yang masih manual. Bisa jadi dia sudah bertukar profesi, demi melanjutkan hidup, tergilas kemajuan tekhnologi. Tapi waktu pulang semalam, [orang kampung selalu bilang semalam padahal kejadiannya bisa jadi udah seminggu lewat] kami—aku dan keluarga—bersimbai, berselisih jalan dengan Do Kontel. Kubilang sama isteriku, ”Itu Do Kontel!” isteriku: ”Do Kontel siapa?”—tak kulayani pertanyaan isteriku, langsung ketegur saja dia: ”Do!” dia membalas—walaupun kupastikan dia tak kenal denganku—: ”Yo! Mau kemana?” kulihat dia masih bersepeda onta, bertopi koboi tikar pandan, berompi, dan—yang sangat-sangat penting—masih menenteng kodak.

Akh! Rupanya Do Kontel masih bertahan—mengutip salah satu judul acara tv—di tepi jaman. [*]

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.