jump to navigation

Nasib Sial Pak Gombel Maret 31, 2010

Posted by jemiesimatupang in Asal Tulis, tentang Anak.
trackback

Nasib sial itu bermula ketika Lae Sederhana menjadi koordinator Pak Gombel di Iskra. Mereka menjadi satu tim program tiga tahunan untuk isu anak jalanan di Madani yang sedang tergopoh-gopoh menjadi megapolitan. Lebih sial lagi: Pak Gombel harus bekerja satu ruangan 4 x 4 dengan Lae Sederhana, beda meja saja. Akh, matilah dia.

“Sebenarnya lebih baik aku masuk jurang saja!” kesal Pak Gombel sepertiga berkelakar ketika dia tahu menjadi anak buah Lae Sederhana. Tapi nasib memang berkata lain, itu sudah ketentuan lembaga—yang karena udah mapan berdiri, menjadi sedikit tak demokratis untuk tidak mengatakan [pimpinannya] dikatator. Daftar sialnya lagi: Pak Gombel masih membutuhkan pekerjaan itu untuk menjamin dapurnya terus berasap, kalau tidak sudah keluar saja dia. Mau tak mau dijalaninya jugalah.

Cemanalah tak dibilang sial? Mereka itu macam minyak sama air. Tak tahulah yang mana minyak yang mana air. Tapi yang jelas Pak Gombel itu orang bebas merdeka; berpakaian sesukanya, tak mau terikat aturan-aturan, harus pakai celana keper, kemeja, apalagi, —bah!?—dasi [benda yang dibuat manusia paling absurd menurutnya]. Pak Gombel selalu bercelana pendek ditambah kaos oblong tak jelas warna kemana-mana, benar-benar kemana-mana: dari undangan resmi di pemerintahan sampai pertemuan-pertemuan tingkat kampung: dia konsisten pakai celana pendek dan kaos oblong tak jelas warnanya itu. Bukan karena dia tak mampu [memang penghasilan Pak Gombel itu satu garis saja di atas upah minimum regional] untuk membeli celana panjang atau kemeja, lebih kepada keberanian untuk keluar dari norma-norma yang sudah diamini orang banyak. Pak Gombel bilang itu unkonvensional [sebenarnya dia bilang: unkonvensionil—supaya lebih unkonvensional].

“Tak penting itu soal penampilan. Rose tetaplah rose!” kata Pak Gombel mengutip salah seorang sastrawan klasik asal eropa.

Lah, sementara Lae Sederhana? Berpakaian itu saja sudah soal prinsipnya baginya. Rapi! Kemeja walaupun sederhana disetrika licin, begitu juga dengan celana, keper panjang, disetrika tak kalah mengikilap—kalau orang dulu bilang: sampai bisa memotong ayam. Dan yang paling penting: ujung-ujung kemeja itu harus dimasukkan ke dalam celana, kemudian baru diikat dengan tali pinggang warisan dua turunan merek krokodail [tulisannya: crocodile]. Dan tentu saja sepatu, walaupun barang seken (inggris: 2nd) dan sudah beberapa kali diganti solnya, harus tetap dikenakan, tak lupa dipastikan sudah disemir kiwi asli. Kinclong!

“Sederhana saja sebenarnya. Kalau berpakain saja tak rapi, sudah bisa dipastikanlah kalau secara keseluruhan orangnya tak beres,” kata Lae Sederhana tentang prinsipnya itu.

Itu baru penampakannya saja. Berdebatan yang paling vital sebenarnya ada di wilayah tindakan dan pemikiran—kalau bahasa yang sering dipakai Pak Gombel: aksi dan refleksi. Pak Gombel itu bukan saja berpakaian saja yang merdeka, tapi juga berpikir dan bertindak. Prinsipnya: orang itu harus merdeka, bahkan sejak dalam pemikiran. Jadi Pak Gombel itu tak mau meniru pendapat-pendapat orang lain sebelum dia tau dimana kekuatan dan kelemahan pendapat itu. Kalaupun dia menyebutkan nama-nama orang yang dikagumi dan diikuti pendapatnya bukan dalam rangka pengekor bak lembu cucuk hidung thok, tapi kristis bahkan kadang tak setuju dengan orang-orang itu.

Soal program baru mereka itu misalnya, Pak Gombel bilang penyelesaiannya persoalan [Pak Gombel bilang dalam tanda kutip] tak bisa melalui proposal-proposal yang kita susun di ruangan ini saja. Harus kita cari akar persoalannya. Paling tidak—walaupun kita tak bisa bikin sangat ideal—kita harus libatkan mereka: sebenarnya apa yang mereka mau? Apa pandangan mereka tentang program ini? Begitu juga dengan pendidikannya, tak selesai kalau kita kasi beasiswa saja, harus dicari bersama-sama dengan mereka pendidikan macam apa yang mereka mau.

“Jangan-jangan di jalanan adalah sekolah yang lebih baik bagi mereka untuk matang merdeka!” kata Pak Gombel.

Sementara Lae Sederhana lain lagi. Baginya anak jalanan itu ada karena kemalasan saja. Malas sekolah, malas belajar, malas bekerja, itu yang tetap membuat mereka menjadi anak jalanan. Kalaupun mau dipandang sebagai korban, maka kasihani sajalah mereka. Untuk merubahnya dibina saja, buat rumah singgah, ajarkan mereka tentang hidup bersih—dan jangan lupa—berpakaian rapi ala Lae Sederhana. Kemudian ajarkanlah mereka pendidikan budi pekerti, agama, dan lain-lain. Dengan bantuan Tuhan Yang Maha Esa, semoga mereka berubah dan tidak tinggal di jalan lagi.—Gagasan terakhir ini yang kadang paling absurd sama Pak Gombel.

”Sederhana saja, kalau mereka rajin mereka akan berhasil dan tak menjadi anak jalanan lagi. selesai!” kata Lae Sederhana.

Begitulah! Ketika Pak Gombel susun rencana tiga bulanan untuk mengorganiser dan mulai membangun hubungan emosional yang lebih dekat dengan anak jalanan di Madani, Lae Sederhana—yang mau tak mau harus melalui mejanya—adakan koreksi besar-besaran. Baginya pendampingan harian itu tak perlu, diskusi rutin tentang pendidikan tak penting—apalagi salah satu materinya: kenapa kita bertato? Latihan seni musik pembebasan tak ada guna—apalagi tak mencantumkan lagu dangdut di dalamnya.

”Saya pikir tiga bulan kedepan kerja kita sederhana saja. Kita beli baju sama celana dulu bulan ini. Kita belajar berpakain rapi dulu. Bulan depan sepatu dan tali pinggang. Kita kasi pelatihan menjahit!” kata Lae Sederhana kepada Pak Gombel.

”Tuhan… ampunilah saya!” kata Pak Gombel—yang kode alam hanya gara-gara Lae Sederhana saja dia menyebut nama-Nya. [*]

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.