jump to navigation

Teh Nulis dan Do Imah April 3, 2010

Posted by jemiesimatupang in 100 Orang Terkenal.
trackback

Teh—bah! microsoft word ini, tiap kali aku nulis teh jadi the—Nulis berumur 60-an tahun. Boleh jadi lebih. Tengok saja wajahnya, lebih banyak kerut, rambutnya juga udah tak imbang lagi hitam sama putihnya: menangan uban. Dan jalannya sudah bungkuk.

“Bayangkan sajalah, aku udah mulai kerja buat menyemat atap sejak jaman Jepang,” kata Teh Nulis [dengan bicara khasnya tentunya, yang nanti akan saya ceritakan] kalau diajak cerita soal umurnya.

Teh Nulis memang tukang penyemat, pembuat atap nipah. Kampung kami yang berbatatasan langsung dengan laut pantai timur sumatera memang paling cocok untuk tumbuhnya tanaman nipah [kalau bisa nanti saya carikan nama latinnya di google.com]. Banyak yang menggantungkan hidupnya dari tanaman yang mirip dengan sawit ini—sebagai pembuat atap seperti Teh Nulis.

Teh Nulis mempunyai gangguan pada pendengaran. Ia tuli. Hampir semua suara yang ada tak bisa didengarnya, kecuali suara isterinya—entah kenapa pula begitu. Habis itu dia juga sumbing. Jadi kalau berbicara agak telo [seperti anak-anak yang sedang belajar bicara] dan tak pas penyebutannya.

Teh Nulis beristikan Do Imah,—sama seperti suaminya penyemat daun nipah juga. Walaupun sudah lama berumah tangga mereka tidak mempunyai anak. Pernah ada, tapi meninggal waktu umurnya belum lagi mencapai 40 hari, cerita yang berkembang di kampung kami anaknya kena palasik. Setelah itu mereka tak pernah punya anak lagi.

Do Imah ini umurnya bisa jadi 5 tahun lebih muda dari Teh Nulis. Belum bungkuk-bungkuk kali. Kalau Teh Nulis mengalami gangguan pada pendengaran dan suara lain halnya Do Imah yang tak bisa melihat. Dia buta sejak umur 30 tahun, tak tahu apa sebabnya, tiba-tiba saja penglihatannya jadi kabur dan lama-lama tak bisa melihat sama sekali. Namun demikian, soal menyemat nipah jadi atap jangan ditanya, kalau orang normal dapat tiga, dia sudah mengerjakan tujuh buah dan lebih rapi pula. Itulah kelebihannya.

“Aku menyemat atap dengan hati!” kata Do Imah kalau ditanya soal apa rahasianya bisa cepat begitu.

Habis itu, Do Imah ini tak bisa menahan [maaf] ompolnya. Tiap malam dia mesti ngompol di tilam atau tikar. Teh Nulis awalnya tak peduli, sama tak pedulinya kalau isterinya buta, orang dia juga tuli—tapi lama-kelamaan dia protes juga—sebab hidungnya memang tidak mengalami gangguan apa-apa—bisa mengendus haringnya, pesingnya, ompol Do Imah di tilam mereka.

“Naceb-naceb punya danak dapus, punya dini doncing dalam dambu” kata Teh Nulis menyesali diri. [“Nasib-nasib, punya anak mampus, punya isteri kencing dalam kelambu”] Ini bukan sekali-dua saja dikatakan Teh Nulis, tapi kali isterinya mengencingi tempat tidur mereka. Orang-orang kampungku hafal semua dengan dialognya itu. Sering dijadikan lucu-lucuan kalau sedang berkombur di warung kopi—tentu saja kalau Teh Nulis sedang absen bersama mereka.

Satu malam hujan lebat mengguyur kampung kami. Lebat sekali: bak dituangkan dari ember saja. Rumah mereka bocor, tapi mereka tak peduli, mungkin sudah maklum dengan pepatah: “Sudah jadi adat, kalau tukang atap rumahnya bocor!”. Teh Nulis dan Do Imah waktu itu sudah berada dalam kelambu, siap-siap untuk tidur, mengisi tenaga untuk kerja berat esok pagi. Entah siapa yang memulai—dalam cerita ini kubilang saja Do Imah—mereka berdebat tentang keadaan yang terjadi. Petir [orang kampung bilang pote(r) dengan huruf r tak jelas] dan kilat.

“Bang pote, Bang!”

“Butan, kilat itu!”

”Pote!”

”Kilat!”

”Pote!”

”Kilat!”

Teh Nulis tak mendengar petir bergemuruh, dia memang tuli. Lain pula Do Imah dia tak melihat kilat, karena buta. Mereka berdebat tiap kali petir dan kilat terjadi hingga keduanya tertidur, dan ditengah malah ketika hujan reda, Teh Nulis terbangun oleh haringnya [pesingnya] ompol yang dikeluarkan Do Imah. Dia duduk dan keluar di dekat tangga [rumah mereka berbentuk panggung]. Sambil merokok daun nipah Teh Nulis pun: “Naceb-naceb punya danak dapus, punya dini doncing dalam dambu.” [*]

[seri cerita 100 orang terkenal di kampug-ku]

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.