jump to navigation

Berjambang Itu Bohong Maret 27, 2010

Posted by jemiesimatupang in Asal Lempar, Asal Tulis.
2 comments

Satu hari, satu sore, berjam-berjam di warung kopi. Tahun 80-an akhir. Wak Ulong, Teh Nulis, dan Do Kontel tau-tau udah duduk mengelilingi meja warung kopi Cek Minah dengan segelas kopi di hadapan masing-masing. Sekali-kali mereka mengunyah goreng pisang sambil menghembuskan asap tembakau rokok daun nipah lintingan sendiri.

Cek Minah melirik sana-melirik sini: menghitung dalam hati, berapa banyak goreng yang sudah dimakan orang-orang itu. (lagi…)

tukang bawang rendah hati Maret 19, 2010

Posted by jemiesimatupang in Asal Lempar, Asal Tulis, Semacam Cerpen.
add a comment

Mau tak mau Pak Gombel juga terimbas [r]evolusi[?] tekhnologi. Walaupun untuk beberapa hal, dengan alasan idealis, ia memilih untuk menggunakan tekhnologi lama ketinggalan jaman: sepeda tua gazelle karatannnya itu misalnya. Padahal tempat kerjanya bisa sediakan kereta [medan: motor], seperti staf-staf yang lain, untuk kendaraannya kemana-mana. Sayangnya, Pak Gombel tolak mentah-mentah.

”Sepeda itu baik untuk bumi,” kilahnya berfilosofis.

Tapi untuk tekhnologi informasi, Pak Gombel bertekuk lutut. Laptop [dan kadang jaringan internet] misalnya, Pak Gombel tak bisa tolak godaan untuk memiliki dan mengaksesnya. Apalagi barang-barang itu memang mendukung kegemaran Pak Gombel dalam dunia tulis-menulis. [bagaimana cara Pak Gombel bisa memiliki laptop dan belajar menggunakannya tentu menarik kalau diceritakan pada bagian tersendiri] (lagi…)

Sepeda Tua Pak Gombel Maret 19, 2010

Posted by jemiesimatupang in Asal Lempar, Asal Tulis, Semacam Cerpen.
add a comment

Pak Gombel belakangan gembira bukan kepalang. Senyumnya—saking royalnya—disebar kemana-mana; bagai tukang kasi selebaran kredit motor yang sering nongkrong di persimpangan. Jumpa Nixon [masudku aku] tersenyum. Jumpa Fatimah juga tersenyum. Jumpa orang-orang, baik yang dikenal ataupun tidak juga tersenyum. Seyum pokoknya. Habis itu siul tak berhenti keluar dari mulutnya: lagu gembira semua.

Selidik punya selidik rupanya sepeda tua itu yang bikin dia bahagia bukan main. Sepeda tua buatan Belanda keluaran tahun 1945[?]. Merek Gazelle. (lagi…)

Pak Gombel Pinjam Sepeda Maret 16, 2010

Posted by jemiesimatupang in Asal Lempar, Asal Tulis, Semacam Cerpen, tentang Anak.
add a comment

“Pantatlah sama Belanda!”

Kuulang-ulangi kata-kata itu. Pepatah yang dibuat oleh Pak Gombel. Mungkin dulu, waktu jaman perang kemerdekaan melawan Belanda, pepatah ini populer. Entah juga tidak. Artinya itu buatan Pak Gombel sendiri untuk menyemangati diri sendiri dan orang lain: ayo jangan takut, jangan bermalasan, musuh di depan mata, lawan atau mati!

Dengan semangat itu juga kubuat catatan tentang persinggunganku dengan Pak Gombel ini. Sebuah proyek yang terus-menerus dilecut api semangat “Pantat sama Belanda”-nya Pak Gombel. Istimewanya dilecut oleh Pak Gombel sendiri, kreator petatah-petitih itu sendiri. (lagi…)

Pak Gombel Maret 16, 2010

Posted by jemiesimatupang in Asal Lempar, Asal Tulis, Semacam Cerpen.
add a comment

Perjumpaanku dengan Pak Gombel ketika ia juga terlibat dalam program pengorganisasian [Pak Gombel bilang: pengorganiseran] anak-anak korban tsunami [dan konflik] di Aceh yang digagas tempatku bekerja. Sebuah project berjangka 3 tahun yang didanai oleh sebuah LSM Asing dari Jerman.

Paruh bulan tahun 2006. Sebuah taxi Medan-Meulaboh berhenti tepat di depan pagar sekretarit kami. Kutinggalkan komputer dengan hitung-hitungan akuntasi yang memusingkan kepala demi mendengarkan klekson dari luar pagar. Seorang pria paruh baya bercelana pendek, kaos oblong, sendal gunung, dan ransel turun dari taxi, semua yang dikenakannya sudah [sangat-sangat] rombeng [Pak Gombel bilang: bulukan], turun tergopoh-gopoh menujuku. (lagi…)

Buku, Sensor, dan Kekuasaan Januari 7, 2010

Posted by jemiesimatupang in Asal Lempar, Asal Tulis, Buku.
Tags: , ,
add a comment

Jaksa Agung mengeluarkan larangan terhadap lima buah buku. Gurita dari Cikeas menghilang. Publik (terutama insan perbukuan) bereaksi. Ingatan kepada rezim represif Orde Baru, mau tak mau, kembali lagi.

Kelima buku yang dilarang tersebut adalah: (1) Pembunuhan Massal Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto ditulis John Roosa, diterbitkan Institut Sejarah Sosial Indonesia dan Hasta Mitra, (2) Suara Gereja bagi Umat Penderitaan Tetesan Darah dan Cucuran Air Mata Umat Tuhan di Papua Barat Harus Diakhiri ditulis Socratez Sofyan Yoman, diterbitkan Reza Enterprise. (lagi…)

Selamat Jalan, Gus… Januari 5, 2010

Posted by jemiesimatupang in Asal Lempar, Ngomongin Politik.
add a comment

(In Memoriam Gus Dur: 1940 – 2009)

Begitu saja kok repot! Kalau mendengar ungkapan itu ingatan kita pasti tertuju kepada Abdurahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur. Dialah yang mempopulerkan kalimat itu. Mantan Presiden RI ke IV ini memang paling suka mengkomentari tiap persoalan yang dipandang rumit oleh orang lain dengan kata-kata itu. Bukan menggampangkan masalah, tapi baginya, sebenarnya persoalan itu bisa dibuat mudah.

Namun, sekarang kita tak pernah bisa mendengar lagi kata-kata itu diucapkan Gus Dur. Rabu, 30 Desember 2009 Ia meninggalkan kita semuanya, berpulang kepada Sang Pencipta. Bendera setengah tiang untuknya, Indonesia berkabung. (lagi…)

Kerja Keras Adalah Energi Kita Desember 19, 2009

Posted by jemiesimatupang in Asal Lempar, Asal Tulis, Uncategorized.
add a comment

Mbak,

YA, ANDA JADI BENAR! ”Kerja keras adalah energi kita” adalah slogan Pertamina, perusahaan anak kandung negara untuk urusan tambang dan minyak di negeri ini. Tapi sekarang, saya pikir, jargon itu tak hanya berlaku pada perusahaan itu thok, namun juga untuk konsumennya sendiri. Maksud saya masyarakat pengguna produk Pertamina, khususnya minah alias minyak tanah.

Jadi, cemana tidak? Akhir-akhir ini minah menghilang di daerah saya: Medan dan sekitarnya. Masyarakat, khususnya ibu rumah tangga,–bah, betapa tak sensitif gendernya kata ini–panik. Mereka mencarinya, bak mencari anak hilang, kemana-mana. Tak ditemukan. Kalaupun ada, di tingkat pengecer harganya bisa melonjak seratus prosen lebih dari harga pasar. Kalau tak percaya, buktinya isteri saya dua hari yang lewat beli minah dengan harga Rp.8.000,- per liter. Cak[Medan: coba]lah Anda tengok, minah lebih mahal dari pertamax sekali pun. (lagi…)

B e r h a l a Desember 15, 2009

Posted by jemiesimatupang in Asal Lempar, Asal Tulis.
2 comments

Bung,

SATU MASA, kata guru ngaji kita, ketika Musa pergi ke Sinai, meninggalkan umatnya dalam waktu yang lama, Samiri membuat patung anak lembu. Berhala yang terbuat dari emas yang konon bisa melenguh itu, kemudian menjadi sesembahan wangsa Bani Israil.

Manakala Musa kembali, ia terkejut; mengapa umatnya tak lagi menyembah Tuhan? Musa marah. Samiri dicerca. Ia kemudian dikenal sebagai pengkhianat, karena merusak kepercayaan umat. (lagi…)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.