jump to navigation

Pak Gombel “Orang LSM” Maret 20, 2010

Posted by jemiesimatupang in Semacam Cerpen.
1 comment so far

Pak Gombel itu kaya pengalaman. Apalagi pengalaman di dunia pengorganisasian [sudah dingatkan yang lain-lain, Pak Gombel bilang: Pengorganiseran]. Dia pernah terlibat pengorganisiran anak-anak kumuh pinggir rel sampai menggagas aksi mogok buruh ribuan massa pada jaman rezim represif.

Ketika mendampingi anak-anak pinggir rel yang bekerja mencari botot atau barang bekas di Medan, Pak Gombel muda tidak hanya berkawan dengan anak-anak itu saja, tapi semua orang-orang yang berhubungan dengan anak-anak di sana. Tak terkecuali. Orang tuanya, tukang parkir, aparat desa, toke botot, ustad, pendeta, sampai preman-preman. (lagi…)

tukang bawang rendah hati Maret 19, 2010

Posted by jemiesimatupang in Asal Lempar, Asal Tulis, Semacam Cerpen.
add a comment

Mau tak mau Pak Gombel juga terimbas [r]evolusi[?] tekhnologi. Walaupun untuk beberapa hal, dengan alasan idealis, ia memilih untuk menggunakan tekhnologi lama ketinggalan jaman: sepeda tua gazelle karatannnya itu misalnya. Padahal tempat kerjanya bisa sediakan kereta [medan: motor], seperti staf-staf yang lain, untuk kendaraannya kemana-mana. Sayangnya, Pak Gombel tolak mentah-mentah.

”Sepeda itu baik untuk bumi,” kilahnya berfilosofis.

Tapi untuk tekhnologi informasi, Pak Gombel bertekuk lutut. Laptop [dan kadang jaringan internet] misalnya, Pak Gombel tak bisa tolak godaan untuk memiliki dan mengaksesnya. Apalagi barang-barang itu memang mendukung kegemaran Pak Gombel dalam dunia tulis-menulis. [bagaimana cara Pak Gombel bisa memiliki laptop dan belajar menggunakannya tentu menarik kalau diceritakan pada bagian tersendiri] (lagi…)

tapa [masih] punya tangan kiri Maret 19, 2010

Posted by jemiesimatupang in Semacam Cerpen.
add a comment

Ketika orang-orang berdemo menuntut dituntaskannya kasus century yang merugikan uang negara, uang rakyat, sampai triliunan rupiah, Tapa hanya duduk di sudut stasiun kereta api Medan. Baginya, sekaleng lem kambing lebih penting artinya dari 6.7 triliun uang yang memang sudah tak jelas keberadaanya itu.

Tapa tak tahu apa yang dituntut orang-orang itu. Apa yang dituntut mahasiswa. Beberapa kali memang dia ikut terlibat dalam aksi-aksi mereka, tapi bukan karena sadar bahwa uang itu juga adalah uang rakyat, uang anak jalanan, uang Tapa juga, lebih kepada nasi bungkus yang biasanya dibagi-bagikan pada jam makan siang waktu aksi berlangsung. Yang lainnya: Ia tak peduli. (lagi…)

Sepeda Tua Pak Gombel Maret 19, 2010

Posted by jemiesimatupang in Asal Lempar, Asal Tulis, Semacam Cerpen.
add a comment

Pak Gombel belakangan gembira bukan kepalang. Senyumnya—saking royalnya—disebar kemana-mana; bagai tukang kasi selebaran kredit motor yang sering nongkrong di persimpangan. Jumpa Nixon [masudku aku] tersenyum. Jumpa Fatimah juga tersenyum. Jumpa orang-orang, baik yang dikenal ataupun tidak juga tersenyum. Seyum pokoknya. Habis itu siul tak berhenti keluar dari mulutnya: lagu gembira semua.

Selidik punya selidik rupanya sepeda tua itu yang bikin dia bahagia bukan main. Sepeda tua buatan Belanda keluaran tahun 1945[?]. Merek Gazelle. (lagi…)

Pak Gombel Pinjam Sepeda Maret 16, 2010

Posted by jemiesimatupang in Asal Lempar, Asal Tulis, Semacam Cerpen, tentang Anak.
add a comment

“Pantatlah sama Belanda!”

Kuulang-ulangi kata-kata itu. Pepatah yang dibuat oleh Pak Gombel. Mungkin dulu, waktu jaman perang kemerdekaan melawan Belanda, pepatah ini populer. Entah juga tidak. Artinya itu buatan Pak Gombel sendiri untuk menyemangati diri sendiri dan orang lain: ayo jangan takut, jangan bermalasan, musuh di depan mata, lawan atau mati!

Dengan semangat itu juga kubuat catatan tentang persinggunganku dengan Pak Gombel ini. Sebuah proyek yang terus-menerus dilecut api semangat “Pantat sama Belanda”-nya Pak Gombel. Istimewanya dilecut oleh Pak Gombel sendiri, kreator petatah-petitih itu sendiri. (lagi…)

Pak Gombel Maret 16, 2010

Posted by jemiesimatupang in Asal Lempar, Asal Tulis, Semacam Cerpen.
add a comment

Perjumpaanku dengan Pak Gombel ketika ia juga terlibat dalam program pengorganisasian [Pak Gombel bilang: pengorganiseran] anak-anak korban tsunami [dan konflik] di Aceh yang digagas tempatku bekerja. Sebuah project berjangka 3 tahun yang didanai oleh sebuah LSM Asing dari Jerman.

Paruh bulan tahun 2006. Sebuah taxi Medan-Meulaboh berhenti tepat di depan pagar sekretarit kami. Kutinggalkan komputer dengan hitung-hitungan akuntasi yang memusingkan kepala demi mendengarkan klekson dari luar pagar. Seorang pria paruh baya bercelana pendek, kaos oblong, sendal gunung, dan ransel turun dari taxi, semua yang dikenakannya sudah [sangat-sangat] rombeng [Pak Gombel bilang: bulukan], turun tergopoh-gopoh menujuku. (lagi…)

Cerpenis Amatiran Tentang Keluarga dan Orang-Orang kampungnya Oktober 28, 2008

Posted by jemiesimatupang in Semacam Cerpen.
4 comments

Cerpenis Amatiran Tentang Keluarga dan Orang-Orang kampungnya

Kutulis untuk Bang Martin

Oleh: Jemie Simatupang

PANGGIL aku Jemie saja.

Bukan bermaksud meniru Pramoedya Ananta Toer untuk “Panggil Kartini Saja” yang ditulisnya pada tahun 1965 itu. Aku ini laki-laki. Bukan dari golongan bangsawan dengan embel-embel RM atau Raden Mas, lagipula ini adalah zaman dimana feodalisme sudah mati, sudah menjadi perlambang tinimbang kekuasaan. Aku sendiri adalah seorang Cerpenis yang baru-baru saja mendaulat diri menjadi penulis, merubah arus hidup dari seorang karyawan kantoran hendak bermetamarfosa menjadi sastrawan dadakan. Jangan cari karyaku di deretan buku di toko buku, karena belum pernah aku membuat satu pustakapun. Jangan juga masukkan namaku sebagai kata kunci pada mesin pencari di halaman internet, karena kau tak akan menemukan siapa-siapa. Aku cuma penulis Amatiran. Baru seminggu.

(lagi…)

Hukum Mati Oktober 28, 2008

Posted by jemiesimatupang in Semacam Cerpen.
add a comment

Hukum Mati

Oleh: jemie simatupang

PERNAH ANDA merasakan…, mati???

Kuyakin kalian bilang ini pertanyaan sinting dan menyangka sizofrenia alias kegilaan bin kesablengan telah mengidapku. Mengidap orang yang telah berani menanyakan pertanyaan langka binti ajaib begitu. Kalian pikir pastilah tiap orang yang ditanya akan berkata “tidak,” seraya mengeleng-gelengkan kepala. Rasionalisme dan logika juga yang menjadi alas hukumnya, tak akan pernah ada orang mati dapat menceritakan pengalamannya kepada orang yang bertanya “pernah anda merasakan….???” sebagaimana aku sekarang ini. Aku yakin Tan Malaka dengan “MADILOG”nya yang membingungkan itu bisa juga dijadikan suatu reason, suatu alasan penyangkalan terhadapku. Tidakkah orang sudah mati tak akan bisa hidup lagi? Tidakkah itu Hantu? Hantu yang bergentayangan? Bukan hantu yang ada di manifesto Marx, hantu komunisme, kalau benar ini pastilah hantu sebenar-benarnya hantu.

(lagi…)

A n t r i a n Oktober 27, 2008

Posted by jemiesimatupang in Semacam Cerpen.
add a comment

A n t r i a n

Untuk orang-orang yang termiskinkan

Oleh: jemie simatupang

HIDUP itu baris panjang antrian.

Bagaimana tidak? Hidup manusia adalah tahap per tahap untuk menuju satu tujuan akhir yang tak tau kapan itu akan tercapai. Lahir, hidup, mati. Ini suatu natuurlijk, suatu hukum alam yang belum ada yang bisa membatalkan.

Tentang tujuan dan hakikat hidup itu lagi, banyaklah filosof dan pemikir yang membuat teori. Dari zaman prasejarah sampai dengan beradaban. Metamarfosa alam fikiran Yunani sampai dengan postmodernisme sekarang ini. Dari tanah, api, air, sampai dengan eksistensi manusia.

(lagi…)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.